Sejarah Desa

 

Sejarah Desa Gotakan

Setiap desa tentunya mempunyai riwayat/sejarah dan latar belakang yang menggambarkan karakter ataupun ciri kas yang berbeda dari suatu desa tersebut.  Sejarah desa biasanya diketahui dari cerita ataupun dongeng para leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dan berkembang di masyarakat dari pembicaraan mulut ke mulut, sehingga sulit untuk dibuktikan kebenarannya secara fisik.

Ada juga dan bahkan tidak jarang cerita/dongeng yang berkembang di masyarakat dari mulut ke mulut tersebut dihubung-hubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Ada pula yang dihubungkan dengan tradisi dan kondisi desa tersebut.

Kemudian dalam hal ini desa GOTAKAN juga memiliki riwayat seperti hal tersebut di atas yang kemudian merupakan identitas dari desa ini, yang kami tuangkan dalam kisah-kisah dan uraian seperti di bawah ini.

Dari beberapa sumber yang telah kami telusuri dan kami gali asal usul desa Gotakan tersebut memiliki banyak cerita yang cukup bervariasi.

Hal tersebut disebabkan oleh karena banyaknya informasi/masukan yang kami himpun dari para nara sumber.

Kemudian dari berbagai informasi dan masukan tersebut dipelajari satu persatu, diseleksi, mana yang dipandang paling akurat dan masuk logika serta layak untuk dipercaya, yang selanjutnya dijadikan pedoman dalam menyusun riwayat/sejarah "Berdirinya Desa Gotakan" dan "Mengapa desa ini diberi nama Desa GOTAKAN".

Selanjutnya tentang riwayat/sejarah berdirinya desa Gotakan setelah kami menggali informasi dari beberapa sumber tersebut dapat kami simpulkan dan kami uraikan sebagai berikut .

Konon ceritanya di zaman penjajahan Belanda, di mana Indonesia pada waktu itu terdiri dari beberapa kerajaan yang dipimpin oleh para raja-raja.

Kemudian di Pulau Jawa terkenal dengan Kerajaan Mataram. Pada masa penjajahan Belanda tersebut banyak raja-raja yang dapat dihasut dan kemudian tunduk pada pemerintahan Hindia Belanda yang terkenal dengan politik adu domba dan tipu muslihatnya.

Konon ceritanya ketika Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IV di dalam tubuh Kerajaan Mataram terjadi perpecahan, karena para punggawa kraton banyak yang berpaling kepada Pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut karena politik adu domba dan tipu muslihat dari pemerintah Hindia Belanda tersebut, dengan iming-iming suatu tahta /kedudukan. Bahkan pada masa pemerintahan Raja Mataram Sultan Hamengku Buwono IV tersebut sebagian tanah kerajaan Mataram sudah diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda.

Akan tetapi di antara punggawa kraton tersebut ada pula yang masih setia membela kerajaan Mataram dan menentang kebijakan kraton/kerajaan yang telah menyerahkan sebagian tanah/wilayah kerajaan tersebut sebagai tanah jajahan Belanda.

Para punggawa kraton /kerajaan yang membelot dan menentang pemerintah Hindia Belanda tersebut salah satunya adalah Pangeran Diponegoro (Putra dari Sultan Hamengko Buwono III).

Beliau sangat berani dan gigih memimpin para pendukungnya untuk menentang pemerintah Hindia Belanda.

Dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro didukung oleh Basah Sentot Prawirodirdjo dan Kyai Mojo serta para punggawa kraton yang lain.

Mereka berjuang menentang / melawan penjajah Belanda untuk menuntut kemerdekaan dan kembalinya tanah wilayah Mataram, bahkan sampai terjadi perang besar yang terkenal dengan perang Diponegoro pada tahun 1825 s/d 1830.

Akan tetapi karena pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro karena persatuan dan kesatuan pada waktu itu belum terkondisikan, di samping itu karena tidak mempunyai persenjataan yang memadai sehingga akhirnya banyak pengikut/pendukung Pangeran Diponegoro yang tercerai berai tercecer di mana-mana dalam rangka untuk mencari selamat agar tidak tertangkap tentara Belanda sambil melakukan perlawanan sendiri-sendiri.

Selanjutnya salah satu pendukung Pangeran Diponegoro tersebut ada yang melarikan diri dan menyelamatkan diri (bersembunyi) di suatu tempat yang sekarang diberi nama DESA GOTAKAN (catatan pada waktu itu desa Gotakan belum ada).

Pendukung Pangeran Diponegoro yang bersembunyi dan menyelamatkan diri ke suatu tempat yang sekarang menjadi desa Gotakan tersebut adalah Kyai GOTHAK.

Kyai Gothak adalah orang yang perkasa, berani dan sakti. Dia akhirnya mendirikan pedepokan / perguruan di mana para cantriknya juga diajari olah kanuragan / kesaktian sebagai bekal untuk melawan pemerintah Hindia Belanda yang ada di wilayah Adhikarto (sekarang Kulon Progo).

Selanjutnya di antara anak murid Kyai Gothak tersebut adalah Raden Mas Sing Lon (salah satu putra Pangeran Diponegoro).

Menurut ceritanya pada waktu itu Raden Mas Sing Lon adalah prajurit kraton yang melarikan diri dari kejaran tentara Belanda. Dalam pelariannya tersebut Raden Mas Sing Lon akhirnya singgah dan bertempat tinggal di Padepokan / perguruan Kyai Gothak dengan mendalami ilmu olah kanuragan yang diajarkan oleh Kyai Gothak.

Kemudian karena ternyata Raden Mas Sing Lon merupakan murid yang paling patuh, pintar dan ternyata awal pertemuannya merupakan pertemuan antara sama-sama pejuang menentang pemerintah Hindia Belanda, sehingga sangat kebetulan (istilah bahasa Jawa : bisa gathuk).

Selanjutnya karena Kyai Gothak kebetulan mempunyai seorang putri maka akhirnya Raden Mas Sing Lon tersebut diambil sebagai menantu oleh Kyai Gothak dengan dikawinkan dengan putri Kyai Gothak tersebut dan kemudian diberi jejuluk / nama Kyai Sodewo.

Kemudian sebagai kenangan perjuangan Kyai Gothak dan Kyai Sodewo yang sama-sama berjuang melawan Belanda, sama-sama lari dari kerajaan untuk menyelamatkan diri dan melanjutkan perjuangan untuk menuntut kembalinya tanah kerajaan Mataram tersebut maka tempat persembunyian yang akhirnya didirikan padepokan tersebut atas kesepakatan mereka berdua diberi nama PADEPOKAN GOTAKAN.

Mengapa diberi nama GOTHAKAN ?

Karena terkandung maksud / mengandung makna bahwa antara Kyai Gothak dan Kyai Sodewo adalah sama-sama pelarian dari kerajaan Mataram karena kejaran tentara Belanda, ternyata bisa bertemu di tempat tersebut (berarti : GATHUK) dan bisa sama-sama selamat dari kejaran tentara Belanda (Gathuk lagi).

Selanjutnya di tempat tersebut Raden Mas Sing Lon ketemu jodoh putri Kyai Gothak (Gathuk lagi).

Lebih ringkasnya GOTAKAN berawal dari gathuke Kyai Gothak dengan Kyai Raden Mas Sing Lon (yang kemudian diberi jejuluk Kyai Sodewo), gathuke guru dengan murid, gathuke para pejuang melawan tentara Belanda, gathuke Raden Mas Sing Lon (Kyai Sodewo) dengan putri Kyai Gothak yang kemudian mereka hidup sebagai suami istri, yang ternyata mereka senasib seperjuangan dalam berjuang melawan penjajah Hindia Belanda.

Jadi pada dasarnya Desa Gotakan itu sebenarnya sudah ada sejak masa perang Pangeran Diponegoro, sejak adanya pertemuan antara guru dan murid (Kyai Gothak dan Kyai Sodewo ).

Selanjutnya perlu diketahui bahwa Kyai Gothak dan Kyai Sodewo memang merupakan sosok pahlawan yang pemberani, perkasa, sangat sakti. Hal ini sesuai dengan legenda yang dipercaya oleh masyarakat, pada waktu Kyai Sodewo tertangkap Belanda, beliau tidak dapat mati dibunuh, kemudian setiap mati hidup lagi, mati hidup lagi sampai akhirnya Kyai Sodewo bisa mati setelah dipisahkan antara kepala dengan gembung (perut) kepalanya di jrangking / dianjang-anjang di gunung Songgo yang sampai sekarang terkenal sebagai Dusun Jerangking (wilayah Sentolo Kulon Progo).

 

Gembungnya (badannya) di makamkan di dekat pintu masuk pasar Wates tetapi ketika pasar Wates mau didirikan, maka makam gembung Kyai Sodewo tersebut konon ceritanya dipindahkan ke makam  Sideman Giripeni.

Kemudian dari riwayat singkat tersebut oleh para punggawa desa pada waktu itu ditetapkan sebagai dasar mengapa desa ini diberi nama Desa GOTAKAN dan sebagaimana uraian di atas bahwa Desa Gotakan aslinya adalah wilayah yang sekarang menjadi Dusun VIII Desa Gotakan.

Menurut sumber yang kami himpun pada era sebelum tahun 1925, yakni di masa kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VIII di Desa Gotakan (yang sekarang Dusun VIII tersebut) dipimpin oleh seorang Lurah bernama Raden Lurah Merto Ijoyo yang dalam pemerintahannya membawahi para bekel-bekel.

R.Lurah Merto Ijoyo adalah Eyang / Kakek dari R. Warselo Husodo, sedangkan R.Warselo Husodo adalah yang menjabat Ulu-ulu / Kemakmuran (sekarang adalah Kaur. Pembangunan) pada masa pemerintahan Lurah Deso Gotakan R.Karso Sudarmo.

Kemudian para bekel-bekel tersebut juga mempunyai wilayah sendiri-sendiri di perkampungan masing-masing.

Karena sebelum adanya kelurahan Desa Gotakan itu selain Desa Gotakan yang saat ini menjadi Dusun VIII tersebut, ada beberapa perkampungan antara lain :

v Gotakan

v Cangkring dan Bulak Wiyu yang kemudian Bulak Wiyu tersebut dibuat trukan dan diberi nama TRUKAN KARANGREJO

v Karang Tengah

v Ledok

v Kedung

v Brodotan

v Plandakan

v Kepedak

v Suru

v Brecak

v Kapresan

v Krebet

v Tanjung

v Kemendung

Selanjutnya setelah R.Lurah Mertoijoyo lengser / meninggal, Gotakan tidak ada lurah dan kemudian pada tahun 1925 yang dikenal dengan sebutan "Jaman Golongan" pemerintah Kerajaan Mataram (Sri Sultan Hamengku Buwono VIII) mengeluarkan peraturan untuk Desa Gotakan sebagai berikut :

1.     Memilih dan menetapkan lurah dengan pilihan masyarakat (waktu itu dengan sistem acungan).

2.     Membagi tanah dan sawah milik kerajaan (kraton) yang sebelumnya dikuasai oleh para bekel kepada warga masyarakat, di mana warga masyarakat tersebut merupakan para pekerja yang ngawulo kepada para bekel sehingga pembagian tersebut sebagai songgo gawe (imbalan) bagi mereka yang telah bekerja pada para bekel tersebut.

3.     Melengkapi perangkat kelurahan menjadi sebagai berikut :

v Lurah (Kepala Desa).

v Kamituwa / Sosial yang bertugas sebagai wakil Lurah.

v Carik yang bertindak sebagai juru tulis Kalurahan.

v Kepetengan yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap keamanan desa.

v Ulu-ulu yang bertugas mengurus air / irigasi untuk kepentingan pertanian.

v Kaum selaku imam desa yang tugas dan kegiatannya menyangkut masalah keagamaan.

Kemudian untuk membantu kelancaran tugas pemerintahan diangkat beberapa bayan, di mana tugas bayan adalah sebagai penyambung / penghubung pemerintah dengan masyarakat. Misal melaksanakan dhawuh-dhawuh dari pemerintah kepada rakyat.

Di samping itu juga ditugasi untuk mengantar / mengambil surat di kecamatan (dahulu kantor asisten).

Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa tahun 1925 tersebut adalah tahun berdirinya kelurahan Gotakan secara definitif.

Ketika itu untuk pertama kali di Gotakan dilakukan pemilihan lurah secara langsung dengan sistem acungan dan Raden Atmodemejo terpilih menjadi Lurah Gotakan.

Lurah R.Atmodemejo tersebut yang kemudian menetapkan wilayah kelurahan yang dipimpinnya dengan nama "KELURAHAN GOTAKAN", dengan mengabadikan nama Gotakan yang sudah ada sejak sebelumnya.